hit tracker

Salam Online

FPI Hanyalah Sasaran Antara!


Jakarta (salam-online.com): Gerakan (rekayasa) penolakan FPI di Palangkaraya—dan belakangan dibikin pula di Pontianak—dari kacamata persekongkolan jahat jelas tak berdiri sendiri. Dengan kata lain, konspirasi tolol ini ada yang menggerakkan dari luar—mengingat selama ini rekam jejak oknum atau kelompok yang menyebut dirinya sebagai warga Dayak tak pernah berurusan dengan FPI. FPI selama ini berurusan dengan pelaku maksiat, misalnya penjual miras—terutama saat bulan Ramadhan—tempat judi, diskotik dan tempat-tempat  hiburan yang tetap buka selama Ramadhan.

Mengapa  sasaran rekayasa kotor ditujukan ke  FPI? Karena FPI adalah ormas Islam yang paling pas untuk dibidik. Alasan tudingan sebagai ormas Islam yang kerap terlibat aksi “anarkis”, memang, membuat FPI paling gampang “ditembak”, sehingga muncul desakan bubar dari segelintir orang yang didukung media massa sekular.  FPI hanya sasaran antara. Target yang lebih luas lagi adalah untuk melemahkan umat Islam Indonesia. Ada tangan-tangan kotor—dari luar berkomplot dengan komprador dari dalam— yang secara sistematis berupaya menghancurkan umat Islam Indonesia, sehingga kaum Muslimin semakin jauh dari Islam.

Jika mantan Kasad Jenderal TNI (Purn) Ryamizard Ryacudu pernah memberikan informasi bahwa ada sekitar 60.000 intelijen asing berkeliaran di republik ini, itu bukan omongan  warung kopi. Jelas, Ryacudu memiliki informasi dan data yang valid. Dan, intelijen asing itu jangan melulu dibayangkan sosok yang berkulit putih. Wajah-wajah dan kulit Asia atau  Melayu justru lebih dominan dalam rangka membantu penyamaran. Bahkan belakangan ada sinyalemen, intel asing disusupkan dengan menyamar sebagai turis. Sebelumnya—sampai sekarang—tak sedikit yang menyamar sebagai peneliti.

Jadi, tak semuanya para intel asing dan kompradornya itu mendapat job “menginteli”  (memata-matai, mengintip, menguping dan mencium)  hanya untuk pemerintahan dan sekitarnya, Juga mereka ditugasi mengamati dan mendapatkan informasi sebanyak mungkin tentang kondisi sosial masyarakat. Maka, setting pemilihan orang-orang Dayak untuk dihadapkan dengan FPI, itu sudah melalui pengamatan, informasi, pengetahuan  dan kesimpulan yang mendalam.  Komprador dari dalam membantu “operasi” jahat ini. “Secret Movement” ini didukung dana besar, setelah “Sang Sponsor” menganggap “operasi” kaum Liberal gagal total dalam men-“SEPILIS”-kan umat Islam Indonesia. Sasaran antara bernama FPI dianggap ormas Islam yang paling mudah untuk dijadikan “umpan”. Dengan pancingan ini—dimulai dari rekayasa penolakan FPI di Palangkaraya—mereka berharap akan diikuti oleh umat Islam umumnya. Sebab, mereka yakin, banyak umat Islam yang tak suka dengan FPI.

Untuk memberi umpan lebih “sempurna” lagi, dibikinlah episode lanjutan dari kasus Palangkaraya. Pada Selasa, 14 Februari 2012 mereka membikin demo sebagai kelanjutan dari penolakan FPI di Palangkaraya yang merupakan hasil rekayasa. Pilihan tanggal 14 Februari  bukan tanpa alasan. Tanggal yang mereka agung-agungkan sebagai hari Valentine  itu memang pas untuk demo para bencong, waria, gay, lesbi, preman bertato dan pelaku maksiat lainnya. Tapi, ternyata mereka kena batunya!

Demo menolak FPI—yang sebenarnya adalah menolak Islam—itu hanya diikuti puluhan orang. Sutradara Liberal Hanung Bramantyo dengan sesumbar menyatakan, “Sudah saatnya kita menunjukkan siapa yang mayoritas dan siapa yang minoritas. Jangan sampai kita melihat, anak-anak kita melihat, saudara-saudara kita melihat, bahwa yang minoritas itu adalah yang merasa mayoritas, dan mayoritas hanya diam saja!”

Siapa yang minoritas? Hanung, entah sedang bercanda, mimpi atau nekat mengucapkan kalimat-kalimat di atas saat demo 14 Februari lalu itu, yang padahal hanya diikuti puluhan orang saja!  Sementara demo menolak Liberal yang digelar sejumlah ormas Islam pada 9 Maret lalu justru jumlahnya mendekati 10.000 orang.

Jadi, tak salah jika disebut kaum Liberal kena batunya. Umat Islam yang menolak gerakan SEPILIS (Sekularis, Pluralis dan Liberalis) ternyata jauuh lebih besar. Maka, dengan peristiwa yang amat memalukan kaum Liberal ini, jelas “Sang Sponsor” marah besar, dan menuntut “orang-orang” mereka di sini untuk melanjutkan permainan lebih hebat lagi menohok umat Islam yang mereka representasikan dengan FPI.

Jadi, tak usah heran, episode rencana bodoh mereka untuk “melenyapkan” FPI berlanjut dengan cara adu domba seperti yang terjadi di Palangkaraya. Mereka memilih komunitas dayak di Pontianak untuk dihadapkan dengan  FPI. Pemilihan kembali  orang-orang Dayak sebagai pihak yang menggempur FPI bukan ujuk-ujuk yang tanpa alasan. Mereka—terutama yang bertugas sebagai “peneliti”—telah mempelajari dengan seksama bahwa  tipikal orang-orang Dayak sangat cocok untuk dihadapkan dengan FPI. Selain karakternya, juga keyakinan yang berbeda  akan lebih dahsyat lagi untuk memprovokasi mereka menggempur FPI—yang tentu saja tak kan  dilakukan oleh Dayak Muslim.

Sasaran antara  (FPI)  diprediksi akan berlanjut, meskipun adu domba antarwarga masyarakat dalam NKRI ini tak jua menuai sukses. Namanya juga usaha. Segala cara (jahat) ditempuh. Tetapi, ada yang keliru  atau tak cermat dalam mereka merekayasa makar ini, sehingga apa yang mereka tempuh akan kandas. Mereka hanya menggunakan  “Dayak Kafir”, itu artinya  sama saja mengundang umat Islam untuk mendukung dan membela FPI.  Mereka hendak membuat tipu daya, tetapi sesungguhnya tipu daya Allah itulah yang pasti menang!

 


blog comments powered by Disqus